This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Motivasi Diri. Show all posts
Showing posts with label Motivasi Diri. Show all posts

Sunday, 6 April 2014

Tak Perlu Kusesali Nasibku

Tak Perlu Kusesali Nasibku....
Aku tidak ingin menyesali nasibku lantaran dipaksa tinggal di tubuh hina bina ini.. terkurung dalam kerendahan jasmani diliputi segala keserkahan hawa nafsu.. bahkan aku tidak peduli pada mereka yang memandang sebelah mata untuk cacat rohaniku..
hanya satu hiburan bagiku..
semangat yang senantiasa berkobar tanpa henti untuk meninggalkan keburukan duniaku.. 
menabung untuk deposit iman tinggi..
untuk kembali ketempat asalku..
ketempat suci..
ketempat Tuhan yang Maha Esa..


Broken Heart Myspace Comments



Saturday, 5 April 2014

Between Consciously or Not



I have become more powerful ...

With the life that God gives to me

With a hunger that almost destroyed my spirit

And poor that presents two options for me

fight or survive ..?

I must be willing and sincere

Deleting a note of disapproval to my destiny

Notes that have been written by the hand of God

Stored in the books of angels

And it seems I have to be really opened my eyes

If this is not a dream but the reality of life

I must brave through each life that is difficult

As difficult as any dream and that's what I want to achieve

And consciously or not

I'm not a child who was born wrapped in silk

I should not be jealous of those who have everything

with as they pleased to get what they want

Only with a few words

"Daddy .. I want this" ... "Mom .. I want it"

This time I must have the courage to stand up straight in my life

And now is not my time to whine again in my life

this is the time for me to choose

"Against" not "Survive"

Because this means is "LIFE"

*aku telah menjadi lebih kuat ...
Dengan kehidupan yang Tuhan berikan kepada ku
Dengan rasa lapar yang hampir hancurkan jiwaku
Dan miskin yang menghadirkan dua pilihan bagi ku
melawan atau bertahan hidup ..?


Aku harus rela dan tulus
Menghapus catatan ketidaksetujuan terhadap takdirku
Catatan yang telah ditulis oleh tangan Allah
Disimpan dalam buku malaikat


Dan tampaknya aku harus benar-benar membuka mata ku
Jika ini bukan mimpi tapi kenyataan hidup
Aku harus berani melalui setiap kehidupan yang sulit
Sesulit apapun mimpi dan itulah yang ingin ku capai


Dan sadar atau tidak
Aku bukan anak yang lahir dibungkus sutra
Aku tidak boleh iri dengan orang-orang yang memiliki segalanya
dengan sesuka hati untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan
Hanya dengan beberapa kata
"Ayah .. Aku ingin ini" ... "Ibu .. Aku ingin"


Kali ini ku harus berani berdiri tegak dalam hidup ku
Dan sekarang bukan waktu saya merengek lagi dalam hidup ku
ini adalah waktu bagi saya untuk memilih
"Melawan" bukan "bertahan"
Karena cara ini adalah "HIDUP"


ZE Copyright 2014
05/04/2014
03 : 50 WITA

Sunday, 10 November 2013

Kebahagiaan itu ibarat Celana Dalam

*CD

My man, kebahagiaan itu persis seperti celana dalam. Serius? Saya tidak sedang bergurau.
Coba lihat di sekitar kalian, apakah ada orang2 yang memperlihatkan celana dalamnya? Dia boleh saja bilang bangga celana dalamnya itu terbuat dari permata, dibeli di Paris, tapi apa pernah dia di tengah orang banyak, melorotkan celana luar, kemudian memperlihatkan celana dalam permatanya? Tidak akan.

Serupa kisahnya. Kitalah yang tahu persis apakah hati kita ini bahagia atau tidak. Mau kita pamer sedang berfoto jpret, jpret di Italia, kita perlihatkan ke seluruh dunia, mau kita pamer punya pekerjaan mantabbb, gaji tinggiii, pasangan cantik/tampan, semua terlihat keren dan kinclong, tapi apakah kita sesungguhnya bahagia atau tidak, ya kita sendiri. Sama persis seperti kita sendiri yang sejatinya tahu memakai celana dalam warna merah atau putih, apakah kita nyaman memakainya, tidak gerah, tidak kejepit, tidak mengganggu gerakan, jelas kita sendiri yang tahu.

My man, maka urusan ini jadi sederhana sekali. Kebahagiaan itu ada di hati kita. Maka, meskipun celana dalam kita seharga 3 buah 10ribu rupiah, kitalah yang tahu nyaman atau tidak memakainya. Sebodo amat dengan orang lain. Mau celana dalam kita itu hanya beli di kulakan murah, kitalah yang tahu nyaman atau tidak mengenakannya. Tidak penting penilaian para pengamat celana dalam. Jangan terpesona melihat orang2 yang sibuk pamer, pastikan saja kita tidak ikut rusuh untuk ikut pamer, "Eh Jeng, celana dalamku itu ada totol-totol macannya loh." Tidak perlu dan sama sekali tidak penting.

Bersyukurlah dengan celana dalam, eh, kehidupan yang kita miliki. Cukuplah superman saja yang pamer2 celana dalam. Dan bisa dimaklumi, karena beliau ini jelas bukan manusia. Dia mahkluk dari planet Crypton--yg di edisi baru malah sudah nggak pamer CD lagi.

*Tere Liye

Friday, 8 November 2013

Bertempur


Kita, tidak akan mengeluh, atas pilihan yang kita ambil sendiri. Tidak pantas, dan tidak patut.

Ada orang yang memutuskan pacaran, lantas pacarnya selingkuh, dia hamil, maka jangan mengeluh, adik2. Sungguh jangan. Bagaimanalah kita meletakkan harga diri, kehormatan kita? Jelas2 sekali kita sendiri yang memutuskan pacaran, kita sendiri yang melampui batas, sedangkan orang lain sudah koar2 menasehati jangan, bagaimana mungkin kita akan mengeluh atas resiko pilihan diri sendiri?
Atau contoh lain, ada orang yang memutushkan jadi guru honorer, digaji kecil sekali, belasan tahun tidak diangkat2, maka jangan mengeluh, kawan2. Sungguh jangan. Jelas sekali kita sendiri yang memilih jadi guru honorer, kita sendiri yang bersedia, bagaimana mungkin kita akan mengeluh atas resikonya? Tentu saja contoh kedua ini tidak bisa disetarakan dengan contoh pertama, yg satu jelas2 keliru, tapi fokus kita soal mengeluhnya, bukan yang lain.

Saya paham, itu manusiawi memang, dan satu-dua, boleh jadi memang hak kita. Tapi selalu cam-kan baik2: kita tidak akan mengeluh, atas pilihan yang memang kita ambil sendiri.
Jika hari ini kita hanya begitu2 saja, tidak dihargai, disitu2 saja, jangan mengeluh. Itu jelas implikasi dari keputusan yang kita ambil bertahun2 lalu. Jika kita hanya bisa jadi ini, tidak bisa jadi itu, maka jangan mengeluh. Itu jelas akibat dari apa yang dulu telah kita lakukan.
Kalau sudah terlanjur, sudah kadung demikian, saatnya untuk berdiri tegak, kokoh. Buatlah rencana2 terbaik, mengubah nasib sendiri. Karena tidak pantas kita selalu mengeluh atas situasi yang kita kunyah tiap hari, tapi kita tidak mengambil langkah kongkret. Kan jadi aneh, kita suka sekali ngomongin orang cuma teori, cuma manis kalimat, cuma jago nasehat, nyalahin orang lain (termasuk pemerintah), tapi kitalah sebenarnya mahkluk hidup yang disebut: omdo, alias omong kosong. Justeru tidak melakukan apapun atas hidup sendiri.

Kalau sudah terlanjur hamil (dalam kasus pacaran misalnya), maka usap air mata, berhenti menangis. Segera bersimpuh sujud, tobat pada Allah, tunaikan sanksi berzina tersebut, kemudian jalani hidup baru. Besarkan anak kita tersebut. Semua orang berhak atas hidup baru, new life. Masa lalu selalu tertinggal di belakang. Kita bisa jadi orang yang benar2 fresh, berubah total, dan mengerti, tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Kalau orang lain masih menatap sebelah mata pada kita, itu urusan orang lain. Urusan kita adalah: saya sudah menjadi orang baru yang insyaf.

Kalau sudah terlanjur jadi guru honorer bergaji kecil, tidak diangkat bertahun2 (dalam kasus pekerjaan misalnya), maka berhenti mengeluh kemana2, mengeluh ini, mengeluh itu, panggil cinta dan motivasi kenapa kita harus jadi guru. Jika tidak mampu memanggilnya, karena dulu cintanya hanya sebatas berharap diangkat jadi PNS (dan sekarang cinta itu jadi benci karena nggak diangkat2 juga), maka sudah saatnya berpikir untuk mencari pekerjaan lain. Tegak, kokoh, mulai melakukan hal lain. Kita bisa menjadi orang yang benar2 fresh, berubah total, boleh jadi malah esoknya menjadi pengusaha top, selebritis terkenal, dsbgnya. Pilihannya selalu demikian. Bertahan, tanamkan cinta, atau pergi.
Apapun situasi yang kita hadapi sekarang, berhentilah mengeluh dan menyalahkan orang lain atas situasi yang kita pilih sendiri--sadar atau tidak sadar saat memilihnya. Kita ini punya kaki, punya tangan, punya otak, kita punya semua amunisi untuk bertempura dalam kehidupan.

Mari berjuang. Kebahagiaan itu harus direngkuh dengan banyak hal. Termasuk melalui perjalanan spiritual kehidupan, hingga tiba di titik pemahaman yang baik.

*tere liye

Sunday, 3 November 2013

Urusan Yang Pasti



Menurut catatan (meski banyak versinya), setidaknya manusia itu sudah ada sejak 200.000 tahun lalu. Nah, buat manusia yang hidup 200.000 tahun lalu, lantas meninggal, maka dia sudah ada di alam kubur selama 200.000 tahun. Bandingkan dengan usianya (asumsi) 100 tahun.

Apakah hidup ini sebentar? Sungguh sebentar.

Kalau kita mati di jaman ini, coba pikirkan, akan berapa lama kita akan ada di alam kubur menunggu kiamat? 10.000 tahun? 100.000 tahun? 1.000.000 tahun lagi? Apakah hidup ini sebentar? Sungguh sebentar.
Kita bahkan lupa dengan orang2 yang hidup 100 tahun lalu. Nggak ngeh, dan nggak kepikiran. Jangankan 100 tahun, yang 20 tahun lalu saja sudah dilupakan. Maka, lumrah saja, saat kita mati, 100 tahun lagi, orang2 juga sudah lupa dengan kita. Tidak ada lagi yang ingat kita yang suka melanggar peraturan, zalim, ingin menang sendiri, petantang-petenteng di muka bumi. Tidak ada lagi yang ingat kita yang suka memberatkan orang lain, mengambil hak orang lain, sok tahu, sok mutu, dan sebagainya. Tidak ada. Musnah ditelan waktu.

Hidup ini hanya sebentar. Hanya sesore hari saja, langsung gelap malam.
Maka, mulailah memikirkan untuk mengisinya dengan baik. Apa susahnya sih bermanfaat dan tulus? Kalaupun tidak, apa susahnya sih sensitif, mau mematuhi peraturan. Kalaupun tidak, apa susahnya sih mendengarkan nurani sendiri. Semua orang punya hati, dilengkapi dengan bagian paling lembut. Kita ini tahu persis apakah sesuatu itu salah atau benar. Tapi sekali kita lupakan hati nurani itu, berubah jadi kelam, maka hilang sudah semuanya. Lantas buat apa kita jadi orang menyebalkan? Agar kita bisa bahagia hidup ini? Agar kita kaya? Berkecukupan? Tidak ada harta benda yang dibawa ke liang kubur. Kalaupun ada, bahkan tidak akan cukup untuk kebutuhan 100.000 tahun di dalam sana?

Sungguh, orang2 yang senantiasa berusaha bermanfaat bagi sekitarnya, senantiasa menghiasi diri dengan ahklak baik, selalu mengingatkan dalam kebaikan, semangat tolong menolong, yang akan memiliki bekal menumpuk saat mati. Tetap akan dilupakan memang, tapi dia memiliki bekal terbaik untuk periode setelah mati yang lebih panjang. Kita bahkan belum menghitung masa2 hari perhitungan. Yang kalaupun di sebut 'hari', itu setara dengan waktu yang lama. Juga masa-masa setelah perhitungan, yang lebih super duper lama.


Entahlah kalau ada yang tidak percaya hari perhitungan dan hari akhir. Silahkan.

Tapi mau percaya atau tidak, kita pasti mati. Tidak butuh agama, penjelasan ilmiah, dsbgnya soal mati ini. Pasti mati. Bagaimana rasanya mati? Sensasi mati? Tidak ada yang tahu, karena yang tahu tidak bisa lagi menjelaskannya.
Semoga kesadaran atas hal ini, sedikit saja bisa mencegah kita untuk zalim, aniaya, memberatkan, melanggar peraturan, menyusahkan hak orang lain.


*Tere Liye

Saturday, 2 November 2013

Ketergantungan



Ada 6 level kecanduan zat adiktif bagi manusia. Level pertama yang paling ringan adalah kecanduan kopi; yang kedua adalah kecanduan marijuana/ganja; yang ketiga adalah kecanduan alkohol; yang keempat adalah kecanduan heroin; yang kelima adalah kecanduan morfin, dan yang paling tinggi levelnya adalah kecanduan nikotin. Jika kalian belajar kesehatan (apalagi seorang dokter); atau punya teman yang mengerti, silahkan konfirmasi hal ini, biar tidak merasa saya apusi/tipu.

Nah, kalau sudah dikonfirmasi, sungguh semua orang harus tahu, kecanduan nikotin (rokok) justeru ada di puncaknya.
Bagi saya, pertanyaan paling menarik, bukan hal2 terkait ini, atau membantahnya; karena jelas orang2 kedokteran lebih paham (dan sama saja sok tahu kalau saya membantahnya); yang menarik adalah, jika demikian adanya, kenapa industri rokok begitu raksasa hari ini? Kalau kita tahu betapa berbahayanya nikotin, kenapa dibiarkan begitu saja?

Maka jawabannya ada dua. Yang pertama, tentu saja karena orang2 yang merokok keberatan dibilang sebagai pencandu. Mereka menuntut merokok dilegalkan, tidak mau disamakan dengan alkohol atau narkoba; Sudah rumus umum, hal2 yang menyenangkan (tapi merusak) seperti rokok ini, tentu banyak peminatnya. Apakah perokok tidak sadar itu merusak? Mereka amat sadar sesadarnya. Kenapa mereka tidak mau berhenti? Inilah yang menjelaskan kenapa kecanduan nikotin duduk dipuncak jawara zat adiktif.

Yang kedua, alasan yang lebih rumit lagi, ini murni bisnis. Industri rokok besar sekali; di Indonesia saja, satu perusahaan rokok bisa untung 10 triliun setiap tahun, itu uang melimpah ruah. Jika sesuatu itu uangnya besar, maka tanpa diminta, banyak orang yang merasa berkepentingan. Saat banyak orang yang merasa berkepentingan, tanpa perlu dibujuk, disuruh, mereka sudah bersedia membela.

Dalam situasi yang sudah terlanjur ini, saya kira, tidak ada gunanya mengurusi orang2 yang sudah merokok. Dan jelas kalian GR deh kalau merasa saya sedang rese dengan kalian yang merokok. Dinasehati atau tidak, sama saja reaksi mereka. Lebih baik fokus kepada yang belum dan tidak akan merokok. Itulah gunanya kampanye tidak merokok ini harus digalang, didukung oleh orang2 yang masih memiliki konsen kepedulian--dan semoga itu termasuk kalian.
Ada berita terbaru yang menakjubkan, dewan kota New York baru saja menyetujui menaikkan usia minimum untuk membeli rokok, dari usia 18 tahun menjadi 21 tahun. Ini keren sekali, di kota paling bebas, di negara paling bebas, regulasi merokok telah beranjak ke level berikutnya. Kota ini tahu sekali biaya dan buruknya kebiasaan merokok, mereka berhitung dengan akal sehat, lantas membuat peraturan yang semakin menyulitkan rokok.

Di negara2 maju, regulasi merokok juga semakin mencekik. Kota2 Australia misalnya, mereka semakin memperbanyak daftar tempat terlarang merokok, tidak bisa seenaknya merokok. Negara2 maju di Eropa juga menaikkan cukai habis2an, rokok jelas bukan barang murah, karena para perokok tahu sekali resiko kena kanker, jantung, dll, jadi mereka pastilah orang kaya. Banyak perusahaan rokok di luar negeri pindah ke negara2 berkembang, karena bisnis di negara mereka lesu dan suram. Indonesia salah-satunya target pasar yang empuk.
Saya sungguh tidak tahu ke arah mana di negeri ini soal rokok, karena faktanya sangat menyedihkan. Sebagian perokok kita datang dari keluarga miskin, yang malah menghabiskan uang mereka utk merokok, bukan utk gizi, atau pendidikan. Mereka berada dalam cekikan bisnis rokok--yang justeru datang dari negara2 maju. Kelas menengah dan orang2 terdidik yg seharusnya berpikir sehat, malah menghabiskan waktu membahas tentang buruh, tenaga kerja, pajak. Lupa tentang fakta paling simpel: kita tidak bisa membenarkan sesuatu hanya karena alasan ekonomi saja.

Semoga masih banyak orang2 yang peduli, yang berani terus konsisten menyuarakan soal rokok ini.
Sekali lagi, saya sedang tidak rese membahas kalian yg sudah merokok; saya sedang mengurus anggota page ini yang masih remaja, merekalah yang sedang saya ajak bicara.




*Tere Liye

Wednesday, 30 October 2013

Orang2 mati yang masih hidup


Paling enak kalo baca ini sambil dengerin musik.
sayangnya saya belum bisa ngasi musik dalam blog..
hehehehe...


Ini bukan cerita horor, meski judulnya mirip2 horor. Saya simpel menulis ttg 'keabadian". Ketika jasadnya memang sudah hancur lebuh di dalam tanah, tidak ada lagi yang tersisa, sudah mati ratusan tahun lalu, atau bahkan ribuan tahun lalu, tapi karyanya masih hidup hingga hari ini. Inilah orang2 mati yang masih hidup.

Lampu misalnya, setiap kali melihat lampu bohlam, maka nama Thomas Alva Edison akan terus dikenang. Kalian tahu resleting? Zipper? Mungkin tidak banyak orang yang tahu siapa penemunya, tapi karyanya terus abadi hingga hari ini. Dan itulah menariknya konsep "keabadian" seperti ini, tidak penting namanya yang diingat, tapi karya-nyalah yang terus bermanfaat.
Dan lebih menarik lagi, mari pikirkan, bahwa Raja2 terkenal, saudagar2 terkaya, tidak masuk dalam definisi "keabadian" ini. Bukankah mereka berkuasa? Bukankah mereka kaya raya? Iya benar, tapi orang mengingatnya sebatas catatan sejarah, dia tidak hidup di antara kita. Berbeda sekali dengan lampu, resleting, setiap hari ada di sekitar kita bukan?

Apakah kalian mau jadi orang2 mati yang masih hidup?

Jika iya, maka jangan berkecil hati, tidak hanya penemu yang bisa melakukan ini. Di sebuah kampung, 50 tahun lalu, ada seorang pemuda yang susah payah membangun jaringan pipa dari sebuah gunung hingga ke kampungnya yang tandus. Panjang pipa itu 8 kilometer. Nah, sudah lama pemuda ini meninggal, pipa2 bambu itu sudah diganti berkali2 secara gotong royong oleh masyarakat, tapi pekerjaannya ternyata masih hidup, menyisakan sistem air bersih bagi mereka. Besok lusa, boleh jadi pipa2 bambu itu digantikan oleh mesin air tanah, disedot, atau besok lusa, seluruh kampung tidak sulit lagi mencari air, tapi setidaknya, dia sudah "abadi" lebih lama dibanding usia biologisnya. Setiap kali penduduk melihat pipa bambu itu, sosoknya hidup.
Mengajarkan ilmu bermanfaat, juga adalah pekerjaan "keabadian". Mendidik anak2 kita menjadi anak saleh, pun pekerjaan "keabadian". Tidak kecil nilainya seorang guru SD yang mau repot mengajarkan A, B, C bagi murid2 kelas satunya. Itu pekerjaan penting yang bisa abadi nilainya.
Kalian tahu Bukhari? Imam Syafi'i? Ibnu Taimiyah? Dan banyak guru2 mahsyur lainnya. Terbentang jauh jarak kita dengan mereka, tapi terasa dekat kita dengannya. Melalui apa? Buku2 yang mereka tulis, diwariskan terus menerus. Itu sungguh pekerjaan "keabadian" yang luar biasa. Tidak ada lagi sosok fisiknya, tapi kita masih bisa membaca karya2 mereka, pendapat2 mereka, nasehat2 mereka.
Apakah kalian tertarik mulai memikirkan melakukan pekerjaan "keabadian"? Bergabung kelak menjadi salah-satu orang2 mati yang masih hidup? Jika iya, ayo mulai hari ini. Agar kita bisa membuktikan, sekecil apapun mahkluk di dunia ini, tidak ada yang diciptakan sia-sia.
Karena sungguh, saya harus memberitahu kabar buruknya sekaligus, bahwa sebenarnya, di dunia ini, ada loh, orang2 yang masih hidup, segar-bugar, tapi sebenarnya sudah "mati". Tidak mau memberikan manfaat, tidak mau menjadi jalan kebermanfaatan, malah merusak dan sangat2 merusak. Kematian telah datang padanya meski usia biologisnya belum tamat.

*Tere Liye

Saturday, 19 October 2013

Two Tower


Mumpung lagi Ga Ada tugas yang harus posting
dan kebetulan malam minggu pula.
biar blog ga kosong juga...



Ketika menyaksikan film fantasi macam Lord of The Ring, orang2 boleh jadi ngeri saat melihat Mount Doom, gunung berapi yang dikuasai oleh Sauron. Itu film fantasi, jadi ya begitulah.
Tapi di dunia nyata, tidakkan orang2 mulai memahami kalau kita punya Mount Doom yang sebenar2nya. Di dekat rumah kita, perlahan tapi pasti, mulai meninggi, sebuah gunung yg disebut seluruh dunia dengan sebutan super volcano.

Tahun 1883, ketika meletus, gunung ini hanya setinggi 798m, tapi di perutnya yang berada di dalam laut, menggelegak magma dahsyat. Suara letusan gunung ini di tahun tersebut sampai ke Perth, Australia, 3.000 Km selatan Bumi, dan hingga ke Mauritius, 4.000 Km. Langit bumi menjadi gelap, suhu udara turun, dunia berubah sesaat setelah letusan terjadi. Jika bom atom yg dilepaskan ke Hiroshima kekuatannya adalah 1, maka saat gunung ini meletus, kekuatan letusannya 13.000 x dari bom atom itu.

Tahun 1883, hanya ada 978 juta penduduk bumi, korban jiwa yang tercatat ketika letusan ini terjadi adalah 36 ribu orang lebih. ratusan desa, kota di sekitarnya hancur. Bukan hanya karena letusan, tapi oleh tsunami setinggi puluhan meter yang menyapu seluruh pesisir ratusan kilometer dari ledakan gunung. Dahsyat sekali ledakannya, jika seseorang berdiri 16 km dari gunung tersebut saat meletus, dia otomatis tuli karena suaranya. Butuh 5 tahun lebih hingga suhu bumi kembali normal.

Saat meletus, pulau tempat gunung ini berada hancur, apalagi gunungnya, hilang. Tapi tahun 1927, anaknya telah kembali, tumbuh 9 meter. Tahun 1933, tumbuh jadi 67 meter, tahun 1960 menjadi 138 m, tahun 1992 menjadi 250 m, dan tahun 2012, sdh tumbuh menjadi 813 meter. Gunung ini sudah lebih tinggi saat dulu meletus di tahun 1883.

Jika kalian punya waktu, silahkan membaca tentang gunung ini, Gunung Krakatau (Krakatoa), silahkan berselancar di dunia maya. Mau tahu atau tidak, mau peduli atau tidak, gunung ini akan terus tumbuh, menggeliat. Tahun 2012 meletus dengan skala kecil, melepaskan sebagian energinya. Tahun2 depan juga akan terus meletus, terus melepaskan energinya. Entah hingga kapan, ketika akhirnya energi besar itu tidak cukup dilepaskan sedikit2, tapi sekaligus, dengan letusan yang lebih besar. Apakah gunung ini akan meledak dahsyat? Saya tidak tahu. Tapi siklus alam adalah keniscayaan. Manusia tidak bisa memprediksinya, tapi hukum alam adalah keniscayaan.

Saya hendak 'bergurau', tapi ini serius. Jika negeri kita ini semakin rusak, negeri ini semakin kacau, dan tidak ada lagi yang tersisa orang2 peduli, maka mudah saja alam menghabisi kita. Meletus saja gunung Krakatau persis seperti 1883, seratus tahun lebih silam, maka itu sudah cukup untuk menghabisi kita. Sekali pukul, Banten, Jakarta, Lampung, Jawa Barat, langsung runtuh.

Sekali pukul, meletus, diikuti dengan gempa dahsyat, Jakarta bisa rata. Catat baik2, Hiroshima hancur oleh satu bom atom saja. Krakatau meletus dengan kekuatan 13.000 x bom atom Hiroshima, maka meski jarak Jakarta setidaknya 150 KM dari gunung ini, dampak letusan itu lebih dari cukup. Dan ingat baik2, suara letusan gunung Krakatau 1883, terdengar hingga 4000 KM jauhnya. Langit bumi menjadi gelap.
Kita tidak bisa mengalahkan alam. Sesombong apapun kita.






*Tere Liye